Benarkah Cinta Itu Buta?

Jatuh cinta berjuta indahnya. Biar siang, biar malam terbayang wajahnya.
Jatuh cinta berjuta indahnya. Biar putih, biar hitam manislah namapaknya
Dia jauh, aku cemas tapi hati rindu
Dia dekat Dia dekat aku senang tapi salah tingkah
Dia aktif aku pura-pura jual mahal
Dia diam aku cari perhatian
Oh repotnya
Tertawa, menangis karena jatuh cinta
Oh asyiknya

Waktu saya masih duduk di sekolah dasar, saya sering membaca buku cerita karangan H.C Andersen. Dimana sang Putri akhirnya selalu hidup berbahagia selamanya dengan sang Pangeran. Tidak ada cerita dimana kedua belah pihak harus saling bertoleransi dan berjuang bahu membahu untuk mempertahan rumah tangga dan menjaga perasaan cinta agar tetap menyala.

Setelah menginjak masa remaja saya baru menyadari cinta itu sesuatu yang bisa bikin hidup saya rumit. Ya, seperti lagunya Jatuh Cinta yang dipopulerkan oleh Eddy Silitonga. Seperti waktu saya jatuh cinta dengan seseorang diawal usia remaja saya, eh dia nya ga punya perasaan yang sama. Reffott…..:-)

Seringkali saya melihat orang yang jatuh cinta, seringkali akal sehatnya jadi kaya sambungan listrik di Medan….byar prêt . Akal sehatnya ga lancar tertutup karena cinta.

Minggu lalu saya baru ngobrol dengan seorang teman lama yang sudah empat tahun ini menduda. Dia menanyakan bagaimana kehidupan pernikahan saya dan apakah saya benar-benar berbahagia dengan pernikahan saya atau kami masih tetap bersama karena alasan lain. Saya jawab bahwa dalam hidup saya membuat cukup banyak keputusan yang ga tepat, tapi saya bersyukur bahwa dalam memilih suami, saya telah mengambil keputusan yang baik.

Waktu teman lama saya ini mengabarkan berita bahwa dia dan istrinya (yang juga saya kenal) memutuskan untuk berpisah, saya tidak kaget. Karena diawal hubungan mereka saya sering mendengar keluh kesah teman lama saya ini mengenai istrinya yang senang menghabiskan uang untuk shopping dan telpon international (waktu itu belum ada internet) dan juga cemburuan luar biasa. Waktu itu saya hanya bilang, “Istrimu itu meninggalkan keluarganya ke negara asing untuk menemanimu. Dia juga sekarang sedang hamil anak mu yang pertama. Sabar lah. Mungkin ini bawaan hamil dan karena ini adalah tahun pertama dia berada dinegara asing jauh dari orang-tuanya.” (Dia memutuskan menikahi sang wanita, karena sang wanita sudah mengandung anaknya dan walaupun mereka sama-sama orang kulit putih mereka tidak mau anak tersebut lahir dari status diluar nikah)

Nah kembali kepercakapan saya minggu lalu dengan teman lama ini, dia bilang dia rindu untuk dapatkan seorang wanita yang bisa mendampingi dia sebagai istrinya, tapi koq kayanya susah banget. Dia bilang dia merasa kesepian tinggal sendirian dirumah besar dengan segala fasilitas dan hanya ditemani seekor anjing saja (anak-anak nya tinggal bersama mantan istrinya dan hanya akhir pekan, anak-anaknya ini mengunjungi dia).

Dia bilang mengetahui ada pasangan seperti orang-tua saya yang menikah dan tetap saling mengasihi sampai maut menjemput salah satu diantara mereka dan juga mengetahui bahwa saya dan suami memang masih terikat dalam pernikahan karena kami memang mengasihi satu sama lain, memberi dia sedikit pengharapan. Saya bilang kepada dia, “Kalau Tuhan sanggup kasih suami yang menjadi berkat dalam kehidupan saya kepada seseorang yang seperti saya, Tuhan sanggup memberi apa yang kamu seorang istri seperti yang kamu harapkan.” Dia meledak tertawa (kita teman lama dan tidak pernah ada perasaan cinta dan sejenisnya, jadi kalau kita bicara ya seadanya. Ga ada jaim-jaiman). Sebelum kita menutup percakapan kita, dia bilang, “Please keep praying for me.”

Ini ada beberapa rambu yang tetap harus diperhatikan walaupun kita lagi benar-benar jatuh cinta dengan seseorang (kalau ada yang mau menambahin, silahkan di koko ya. Kala ga sependapat, ya sah-sah saja? ):

1. Pacarku ganteng luar biasa/cantik luar biasa/seksi luar biasa.

Mempertahankan hubungan apalagi kalau sudah menikah tidak bisa hanya didasarkan dari penampilan fisik semata. Semua orang akan tua (walaupun proses penuaan bisa diperlambat). Tapi, kalau hubungan hanya didasarkan oleh keindahan rupa, bakalan reffffooot. Contohnya teman saya diatas yang bertemu dengan mantan istrinya dikolam renang disuatu resor. Dia bilang begitu dia melihat istrinya keluar dari kolam renang memakai bikini, dia langsung bilang ke dirinya: “ That girl is very hot. I must get her address.”

Keindahan raga bukan jaminan sebuah pernikahan akan bahagia dan langgeng. Eitts, tapi bukan berarti kalau sudah menikah ga usah memperhatikan kebugaran dan kebersihan fisik lho.

2. Kita yang lebih mengasihi pasangan kita.

Kalau pasangan menunjukkan gejala cuek banget dan segala sesuatu selalu inisiatif dari kita, ah mending bubar aja. Jangan buang waktu. Suatu hubungan yang sehat itu akan saling memberi dan menerima. Bukan satu pihak memberi terus dan yang lain hanya menerima dan tidak mau memberi. Akan nada suatu titik dimana pihak yang selalu memberi akan merasa jenuh.

3. Kita jatuh cinta dengan seseorang dengan melihat potensi yang ada didalam dirinya.

Misalnya dia orangnya penampilannya berantakan dan kurang menjaga kebersihan diri, tapi punya otak yang luar biasa cemerlang. Kita jadian dengan dia dengan harapan kita bisa mengubah dia seperti yang kita inginkan. Iya kalau dia mau berkompromi dan berubah dengan ikhlas. Tapi, kalau dia tidak mau, lha apa kita ga akan kecewa nantinya?

4. Jatuh cinta dengan seseorang yang sebenarnya tidak available (sedang pacaran dengan seseorang lain/sudah resmi menikah dengan orang lain/sudah tinggal bersama dengan seseorang lain).

Mengikatkan diri kepada seseorang yang tidak available, menurut saya hanya cari tambahan masalah. Kenapa ga bikin hidup sederhana? Kalau dia selingkuh, apa ga kuatir dikemudian hari dia juga menyelingkuhi kita? Ga usah dengerin rayuan pulau kelapanya. Saya sarankan. ambil langkah seribu begitu tipe seperti ini mendekat.

5. Perhatikan cara dia mengelola keuangan pada saat masa penjajakan.

Saya kenal beberapa suami yang terpaksa menanggung akibat dari istri-istrinya yang hobiiii banget belanja. Satu diantaranya terpaksa jual rumah dan pindah ke rumah yang lebih kecil karena sang pacar yang kemudian jadi istri ternyata punya hutang kartu kredit yang besar sekali. Baru sadar setelah beberapa bulan menikah. Si istri hanya bisa membayar jumlah minimum kartu kredit-kartu kreditnya. Ada juga sang suami yang tergila-gila dengan judi. Pada saat pacaran sebetulnya sang istri sudah tahu, tapi tetap menikahi dengan harapan bisa mengubah prilaku suaminya.

Ada juga kasus dimana sang suami/istri peliiiiitnya kelewatan. Ini juga bisa dideteksi pada saat pacaran. Masa istrinya pinjam Rp. 10,000 perak aja sampai ditagih-tagih. Padahal penghasilan sang suami besar dan kadang-kadang kalau lagi ga ada uang tunai didompetnya, dia juga menggunakan uang istrinya dan sang istri tidak menagih.

Hati-hati juga dengan seseorang yang ingin memacari (menikahi) karena ingin jadi benalu. Sekarang sih bukan cuma cewek yang matre, cowok juga banyak yang matre. Seperti yang pernah saya tulis di koko mengenai seorang suami pengecut yang akhirnya memaksa sang istri untuk menanda-tangani surat cerai, karena dia punya WIL yang lebih tua dari sang pria ini, tapi keluarga sang wanita kaya-raya. Punya properti dikawasan elit di Amerika dan Singapura. Adik sang WIL ini juga mengalami keterbelakangan mental, jadi sang pria pasti akan menjadi penerus bisnis keluarga WIL nya ini.

Salah satu teman saya yang memang dari keluarga berada punya anak yang cantik dan pintar. Teman saya ini ingin sekali agar anaknya cepat menikah. Tapi, sang anak berkata, “Buat apa menikah hanya untuk status, Ma. Saya ga mau punya suami yang hanya ingin numpang hidup dari keluarga kita.”

Ada juga suami yang bilang begini kepada istrinya, “ Kamu ambil banyak kerja lembur dong. Soalnya aku kepengen beli TV plasma yang lebih besar. Ada juga yang bilang begini kepasangannya: “Say, nanti bonus tahunan mu buat aku ya. Aku mau ganti mobil nih.”

6. Keluarga pasangan.

Diskusikan apakah pasangan kita diharapkan untuk membantu secara finansial kepada keluarganya walaupun nanti status dia sudah menikah. Jika ya, seberapa besar yang anda dan pasangan bersedia untuk alokasikan.

Juga mengenai kebudayaan dari keluarga pasangan. Apakah anda dan pasangan diharapkan untuk membuka pintu rumah setiap saat bagi anggota keluarga dia untuk berkunjung. Kalau salah satu dari anda ga terbiasa dengan hal ini, ini juga bisa menimbulkan masalah karena seringnya anggota keluarga pasangan yang tiba-tiba muncul bertandang kerumah anda dan pasangan. Atau scenario yang yang lebih buruk: satu persatu anggota keluarga pasangan berkunjung dan menginap dan mengharapkan anda dan pasangan menjadi supir dan bank/mesin ATM buat mereka selama mereka berkunjung.

Perlu dibicarakan sebelum menikah:

* Apakah anda dan pasangan akan membuat rekening bersama yang dipotong dari gaji masing-masing.
* Apa yang menjadi tanggung-jawab suami dan apa yang menjadi tanggung-jawab istri.
* Jika sang istri kemudian hari memutuskan untuk menjadi ibu rumah-tangga sepenuh waktu, apakah sang suami bersedia dan iklas menjadi satu-satunya tulang punggung keluarga. Begitu juga sebaliknya, jika suatu waktu sang suami meminta sang istri untuk berhenti bekerja dan menjadi ibu rumah tangga sepenuh waktu, apakah sang istri ikhlas melepaskan karirnya.
* Apakah kehadiran anak suatu hal yang mutlak atau tidak.

7. Pasangan yang senang sekali tebar pesona(boleh dibaca: genit dengan lawan jenis lain.

Biasanya sih orang yang seperti ini didalam jiwanya mengalami krisis percaya diri/minder). Ah, kalau yang jenis ini bagi saya, lebih baik ga usah dijadiin pacar. Bakalan cari penyakit. Dari pada nanti harus nyanyi, “ Susah juga ternyata punya pacar bermata liar, dsb, dsb”, lebih baik ambil langkah seribu dari tipe ini.

8. Pasangan yang suka mempermalukan/menyakiti kita baik melalui kata-kata apalagi secara fisik.

Langsung putusin aja sebelum perasaan terlampau dalam.

9. Tidak ada pasangan yang 100% sempurna. Harus mau saling toleransi dan saling memaafkan. Manage your expectation.

Nah kalo sudah menikah jangan berpikir bahwa menikah tiap hari tujuh hari seminggu segala sesuatu akan lancar dan selalu penuh dengan “I Love You” setiap detiknya. Pernikahan perlu banyak usaha dari kedua-belah pihak agar tetap langgeng. Hal-hal kecil jangan dianggap sepele. Misalnya pergi berduaan walau sudah punya anak; mengucapkan terima kasih kepada pasangan; amati apa yang pasangan kita sukai dan lakukan hal tersebut untuk memberkati dia, dsb.

10. Perbedaan usia yang terlalu jauh, misalnya 20 tahun lebih.

Kenapa? Karena minat dan ekspektasi seseorang akan pasangannya akan berbeda-beda berdasarkan usia. Kalau yang satu masih suka jalan/dugem/ dan yang satu sudah tidak mampu lagi fisiknya untuk keluar malam, kan repot. Tapi, kalau memang bersedia untuk menerima hal ini, ya jalanin saja.

Tulisan ini bukan untuk menceramahi siapapun. Memilih pasangan hidup adalah salah satu keputusan yang sangat amat penting dalam kehidupan kita dan saya berharap teman-teman dapat memilih seseorang yang berkomitmen untuk menjadikan pernikahan tersebut sukses.

Buat teman-teman yang punya rambu-rambu lain yang harus diperhatikan bagi mereka yang masih belum menikah dalam mencari pasangan, tolong sumbang saran nya di Koko ya. Supaya bisa jadi pertimbangan buat teman-teman kita sebelum mereka memutuskan untuk menikah.

Iklan

3 thoughts on “Benarkah Cinta Itu Buta?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s