Pada kenyataan pacaran tak sedikit yang hanya akan menunai kegagalan, kekecewaan dan bahkan bisa sangat menyakitkan. Malah bisa dibilang hanya sedikit yang berakhir di pelaminan. Itupun terjadi (perkawinan) karena sudah melalui proses kegagalan demi kegagalan, kekecewaan demi kekecewaan dan pengkianatan demi pengkianatan. Adapula yang hanya melakukan dengan proses yang cukup singkat saja. Dan kalau boleh dibilang, bahwa pada kenyataannya ternyata pacaran sesungguhnya hanya akan menunai kegagalan, kekecewaan dan bahkan sangat menyakitkan.
Kemudian kalau sudah memahami kenyataan umum yang terjadi, maka tidak ada jalan lain untuk menyadari bahwa pacaran hanyalah sebuah proses pembelajaran. Proses pembelajaran yang didalamnya terdapat adanya perasaan cinta, kecemburuan, kemungkinan adanya pengkianatan, godaan seksual, kesalahpahaman-kesalahpahaman, rayuan gombal, proses meningkat kemudian menurun, datang dan pergi, awalnya cinta dan berakhir dengan kebencian, dan lain sebagainya
Dengan demikian siapapun juga yang sudah memberanikan diri membangun cintanya dengan pacaran, maka merekapun harus siap untuk dikianati, dilukai, dikibuli, terjerumus pada seks yang sangat mematikan, malu, hilang kepercayaan diri, dan banyak hal lain yang harus siap diterima sebagai sebuah kenyataan akibat irama cinta yang bisa memabukkan ini. Terjerumus pada sex yang mematikan akibat jiwa cinta yang memang akan membawanya ke sana. Terjerumus pada sex yang mematikan, karena tanpa disadarinya kita tahu-tahu sudah terjebak di sana. Terjebak pada aktifitas sex yang sebenarnya belum siap kita terima. Ketidaksadaran terjebak aktifitas sex sebagai arus jiwa cinta, yang pada akhirnya, ternyata sangat menyakitkan. Sangat menyakitkan karena telah ada pengkianatan. Adanya pengkianatan setelah semua terjadi begitu saja.

Begitulah resiko pacaran yang harus disadarinya. Sebab pacaran adalah irama cinta itu sendiri. Dan cinta pastilah akan membawanya pada aktifitas sex. Namun aktifitas sex belum bisa menjamin akan membawanya pada semakin kokohnya cinta. Demikianlah adanya tentang roh cinta itu. Sehingga bisa dikatakan cinta adalah sex, namun sex belum tentu membawanya ke dalam roh cinta. Sehingga, bisa disimpulkan bahwa pacaran adalah hawa nafsu itu sendiri. (lagi…)

Eddy Silitonga. Seperti waktu saya jatuh cinta dengan seseorang diawal usia remaja saya, eh dia nya ga punya perasaan yang sama. Reffott…..:-)














